Movie: Love is Cinta

Saya bereaksi saat menonton sebuah film either disebabkan film itu fun to watch atau yang bisa membuat saya merinding hampir stress dan berteriak-teriak dalam hati (karena penghuni lain sudah pada tidur). Untuk film Love is Cinta ini tampaknya alasan saya bereaksi adalah yang kedua.

Baiklah, saya bukanlah seorang pengamat film dengan kritik-kritik tajam nan menyayat hati ala Sinema Indonesia. Tapi saya juga masih punya hati nurani. Meskipun tak jarang juga saya nonton film Korea dengan alasan aktrisnya cantik dan imut-imut. Dan ironisnya inilah salah satu alasan saya untuk mengisi waktu sembari menunggu kiriman email di larut malam dengan mata yang sudah meredup. Entah apa yang saya pikirkan saat itu sampai saya berani mengambil resiko untuk berharap paling tidak para pemain filmnya masih bisa jadi compensation untuk cerita yang datar. Begitu nekadnya saya berharap bahwa paling tidak aktrisnya bakal seperti Kim Ah Jeong, syukur kalo ada yang seperti Song Hye Kyo, saat saya sebenarnya sudah mengetahui siapa pasangan utama di film ini. Akibatnya, saya jadi seperti seorang fresh graduate yang menunggu hasil penerimaan kerja baru setelah gelagapan dalam job interview. Seperti menonton rekaman interview yang gelagapan itu, tidak lagi bisa menahan malu, terpaksa tontonan dihentikan di potongan bagian ke 4. Anrra ,saya sebenarnya sangat berterima kasih atas kebaikan dan kemurahan hatimu meng-upload film-film Indonesia. Namun untuk yang satu ini, terima kasih juga telah menyadarkan saya tentang kepercayaan diri saya bahwa dunia perfilman Indonesia telah maju.

Seharusnya saya tidak usah bersikap skeptis layaknya seorang scientist dalam membuktikan sebuah teori. Meskipun bukanlah organisasi pengamat film bersertifikat, mestinya saya percaya saja tulisan Sinema Indonesia tentang Love is Cinta. Paling tidak mereka sudah ngeluarin duit untuk nonton di bioskop. Sedangkan saya mesti menahan rintihan hati yang tak kuat lagi sementara otak masih penasaran.

Maaf deh untuk pembuat, pemain, dan penggemar film Love is Cinta, tapi selain ide yang katanya sedikit ada kimiripan (sengaja atau tidak) dengan film lain dan lagu-lagu pengisi yang nggak banget, cerita ini mestinya cukup sampai di level sinetron. Atau bahkan untuk jadi sinetron pun kurang nendang karena sinetron sekarang sudah banyak yang isinya nendang-nendangan.

Satu hal lagi yang membuat saya bertanya dalam hati, ini film drama atau komedi? Sebenarnya, menurut saya film ini berpotensi untuk menjadi freakin’ comedy movie. Tapi karena sepertinya Love is Cinta tidak diniatkan menjadi sebuah film komedi, jadinya yang tersisa hanyalah freakin’ movie. Entah freakin‘ apa. Entah ceritanya yang kurang berkarakter, akting pemain yang malah kelihatan aneh, atau sutradara yang kurang bisa membangkitkan emosi penonton, nggak jelas lah. Yang mungkin malah film ini berhasil membangkitkan penonton dari kursi mereka dan segera meninggalkan bioskop. Mene ketehe’

1 Response to “Movie: Love is Cinta”


  1. 1 aulia ardiansyah September 25, 2007 at 7:03 am

    wah komentarmu benar-benar menyobek-nyobek hati dan perasaan..
    [pernah nonton thukul tak?]

    mending nonton cintapuccino. ya gitu deh (mending baca novelnya yang notabene chicklit dan dapet pinjeman pula, daripada nonton di bioskop yang masuknya harus beli tiket sendiri :D )


Leave a Reply