Peringatan: Posting cukup panjang
Jaman sekarang hampir semua hal sudah diharapkan untuk dapat diintegrasikan satu sama lain. Alat komunikasi bukan lagi telpon engkol milik Bung Karno dulu. Bukan juga sebatas handphone Nokia 3310. Everything is beyond imagination. Sebuah handphone sekarang sudah dilengkapi kemampuan seperti sebuah digital camera, MP3 player, digital organizer, bahkan semakin mendekati sebuah portable computer. Lanskap bisnisnya telah berubah dari hanya bisnis alat komunikasi menjadi bisnis perangkat elektronik pribadi terintegrasi. Tapi bukan itu yang ingin saya sentuh di posting ini, melainkan bisnis hiburan.
Ya, bisnis hiburan dan tepatnya Korean showbiz industry.
Belum lama ini saya terkena imbas Hallyu (demam Korean pop culture). Awalnya adalah ketika saya menonton My Sassy Girl di sekitar akhir tahun 2006 lalu (sangat telat memang). Lalu seperti reaksi berantai, saya menonton semakin banyak drama, film, dan segala jenis variety show Korea hingga akhirnya saya tahu siapa itu Jeon Ji Hyeon, Rain (Bi), Lee Hyo Ri, Super Junior, DBSK, See Ya, selain Song Hye Gyo yang sudah saya kenal lewat Endless Love. Di sinilah saya menemukan fenomena perubahan lanskap bisnis itu. Suatu perubahan yang bahkan menurut saya sangat- bahkan terlalu- cepat. Saya akan fokuskan hal ini pada dunia musik.
Kemunculan Shanty dengan sexy dance-nya dulu dianggap keren. Lalu belum lama kemarin ada Ratu yang terkenal dengan imej cute-yet-sexy dan unique-fashion-sense. Band Sejuta Umat- Peterpan- sempat menjadi idola menggeser SO7. Lalu kini muncul popstar baru, BCL, yang menyanyi sekaligus berakting. Tampaknya sudah cukup agresif dunia musik Indonesia. Tapi bila dibanding dengan Kpop, ternyata itu semua belum seberapa. Di Korea ada jauh lebih banyak penyanyi berbakat dari usia belasan hingga puluhan. Mereka tidak hanya jago mengolah vokal, tapi juga jago mengolah gerak dan juga berakting. Ya, rata-rata penyanyi Korea memang bisa dance. Panggung yang dulunya hanya sebagai tempat sang penyanyi berdiri kini telah menjadi arena show-off kemampuan dance. Penonton pun menggila. Lihat saja Rain (Bi), ia mampu menaklukan Asia dalam sekejap. Rain adalah contoh yang fenomenal; masih banyak penyanyi tingkat nasional yang dance mereka tak kalah dari Rain.
Yang juga menarik adalah bahwa para penyanyi Korea sekarang ganteng-ganteng dan cantik-cantik (menurut standar Korea). Seakan-akan beberapa tahun belakangan banyak lahir bayi-bayi ganteng dan cantik dengan bakat luar biasa. Karena rupanya kini tak cukup hanya bermodal satu hal untuk bisa sukses, bahkan tidak cukup untuk sekedar eksis. Penyanyi tak lagi hanya harus bersuara indah tapi juga harus bisa menarik perhatian dengan berbagai cara. Mungkin syarat menjadi penyanyi di Korea adalah bisa menyanyi dan dance serta berpenampilan (wajah) menarik. Lanskap bisnis telah berubah.
Namun semua tak terjadi semudah membuat sensasi di infotainment Indonesia. Para produser dan pencari bakat sangat gencar mencari dan mengorbitkan artis baru setiap saat. Lebih seringnya mereka memahat para artis baru ini. Mereka bukan satu atau dua orang, tapi beberapa sekaligus. Ahmad Dhani yang menelorkan Ratu, Andra and The Backbones, dan Dewi-Dewi belum ada apa-apanya dibanding JYP, SM atau YG. Paling tidak ada satu artis baru (entah solo atau grup) gacoan tiap managemen artis ini setiap tahun yang siap menjadi idola baru Kpop. Para produser ini menyeleksi remaja-remaja berbakat usia belasan. Sayangnya, bakat saja tidak cukup. They must be pretty!
Lalu, bagaimana bila sang calon idola baru kurang cantik dan make-up sudah tak lagi cukup? Para produser tak perlu khawatir, Korea punya banyak Dr. 90210. Benar, operasi plastik (OP) sudah menjadi alternatif umum sekarang. Di kalangan artis Korea sekarang (wanita khususnya), tidak lagi sulit untuk melihat siapa yang pernah melakukan OP. Yang paling umum dilakukan adalah operasi mata-dan-hidung, dua fitur orang Korea mereka anggap kurang menarik. Meski kebanyakan penggemar OP adalah artis wanita, ada juga beberapa artis pria yang “terpaksa” melakukan OP untuk membuat mata mereka lebih terbuka.
Mata besar, hidung lancip (atau dikenal dengan Western Nose) plus ukuran wajah yang relative kecil telah menjadi standar wajah komersil di Korea hari ini. Maka OP mulai dari mengangkat kulit sekitar mata, meluruskan tulang dan pemasangan batang silikon di hidung, sampai yang menyakitkan macam reparasi tulang rahang pun dijalani demi mendapat wajah idola. Ada yang hanya merubah satu bagian, ada juga yang mendapat total makeover ala Kim A Jung. Meski demikian, bukan berarti tidak ada artis wanita yang alami. Masih ada beberapa wajah-cantik-alami yang bahkan lebih cantik dari wajah plastik. (foto: Ko A Ra yang masih alami?)
Yang menyedihkan adalah bahwa kini bukan hanya kalangan selebriti yang melakukan OP, melainkan juga para cewek ABG! Hal ini sudah menjadi barang umum. Hanya saja mereka yang melakukannya tidak terang-terangan mengakuinya. Sudah jelaslah ini dampak perubahan lanskap bisnis yang begitu cepat. Naiknya standar (wajah) di Korean pop culture jelas secara langsung maupun tidak telah mempengaruhi perubahan di lapisan di bawahnya: penonton dan penggemar. Menurut seorang teman saya (pria) dari Korea, ia bahkan sudah terbiasa dan bisa membedakan apakah seseorang pernah melakukan OP atau tidak. Dan masih berdasar pengalamannya, biasanya cewek-cewek ABG melakukan OP setelah kelulusan SMA menuju universitas, beberapa sebagai hadiah dari orang tua mereka.
Coba amati foto artis Park Shi Yeon disamping. Wajah before-nya sudah begitu cantiknya dengan hidung yang seperti itu, namun tetap saja ia melakukan OP.
Tuntutan dunia bisnis hiburan ini tentunya cukup membuat pusing para produser dan artisnya sendiri. Produser harus terus menghasilkan artis-artis baru dengan penampilan semenarik mungkin dan para calon idola semakin rajin berlatih dan mempercantik diri agar terpilih. Training vokal dan gerak bisa dilakukan secara intensif, namun tidak untuk merubah wajah. Semakin gencarnya penyanyi menjadi bintang iklan, model di majalah, dan juga berakting membuat wajah mereka mau tak mau juga menjadi fokus tontonan. Sehingga OP pun seakan menjadi bagian tak terpisahkan dari proses memasuki Kpop World. Banyak dari mereka yang OPnya tidak berhasil mulus. Banyak juga yang harus menghindari pertanyaan-pertanyaan wartawan seputar OP, dinilai tidak terbuka atau jujur, tidak bisa melakukan hal-hal tertentu, dan mendapat kritik tajam dari publik. Foto-foto “before-and-after” pun banyak di-upload di internet. Jikalau mereka bukan artis, mungkin saja mereka tak sampai sejauh ini rela menjadikan wajah mereka media eksperimen desain para dokter ahli OP dan juga produser. Sedihnya, jika ada yang salah dengan wajah baru mereka dan tak tampak menarik lagi, fans bisa dengan mudah berpaling. Apalagi bila wajah adalah satu-satunya aset. Benar-benar membuat depresi.
Dan fenomena ini lebih banyak menghinggapi artis wanita. Kenapa? Karena umumnya jika tidak benar-benar ada bagian wajah yang harus dioperasi (seperti mata yang terlalu sipit), para artis pria tidak merasa perlu melakukan OP. Mereka bisa cuek saja. Sebaliknya, artis wanita ingin selalu tampil sempurna di depan sesama artis wanita, para pria, media, dan tentunya penggemar. Ini yang menurut saya tidak seimbang. Tuntutan pada artis wanita yang seperti ini membuat mereka merasa kurang dengan keadaan dirinya. Hal ini kemudian diperparah dengan menjual tampang artis-artis wanita baru itu. Jadinya ini terasa seperti sebuah eksploitasi daripada sekedar bisnis hiburan.
Kembali lagi seperti handphone yang bukan lagi hanya sebagai alat komunikasi, penyanyi pun kini bukan lagi sekedar pemilik suara merdu di CD. Seperti bagi kita kebanyakan, meski fungsi utama handphone adalah sebagai alat komunikasi, N95 tentunya lebih menarik daripada N3310, bukan? Penonton juga lebih suka menonton idola mereka bisa menyanyi, dance, dan pastinya berpenampilan menarik dan cantik. All-in-one package. Tapi sayangnya, para artis ini bukan handphone.
Sungguh fenomena yang semoga tak akan pernah terjadi di Indonesia.
![]()
Semoga Jeong Da Bin tak perlu OP jika ia memutuskan untuk menjadi artis nanti.
Foto-foto dari: Popseoul dan berbagai sumber.
0 Responses to “Perubahan Lanskap Bisnis: Kpop”