Indonesia Perlu Belajar Dari Corporate America

Apa jadinya jika dalam sebuah band setiap anggotanya mempunyai selera musik yang berbeda? Drummer suka gebukan jazz, betotan bass-nya mirip Flea RHCP, gitarisnya memainkan genjrengan musik Country, dan sang vokalis bersuarakan khas dangdut. Pusing, jelas. Tak usah menunggu setiap anggota mempunyai selera musik yang berbeda untuk menimbulkan konflik di dalam band tersebut. Cukup seorang anggota dengan selera yang berbeda dan seorang anggota (yang menyebut dirinya the Leader) yang berkepribadian keras sudah bisa membuat suasana panas. Sulit membayangkan contoh grup band seperti ini? Bayangkan saja Dewa 19!

Di sisi lain, sebuah tim sepakbola membutuhkan 11 pemain dengan karakter yang berbeda untuk saling melengkapi kekuatan tim. Jika setiap pemain mulai dari kiper hingga penyerang semuanya hanya bagus dalam menendang bola dengan kaki kanan, apa jadinya barisan kiri mereka? Perbedaan tipe setiap pemain dalam sebuah tim tentunya akan sangat menguntungkan. Tim itu akan lebih fleksibel menghadapi lawan.

Grup band dan tim sepakbola di atas adalah beberapa dari contoh keragaman atau diversity dalam sebuah organisasi. Sejauh mana diversity dapat memberikan kebaikan tergantung dari tujuan organisasi tersebut dan caranya mengelola keragaman tersebut. Corporate America sekarang sudah menjadikan diversity sebagai sebuah isu penting di dunia bisnis. Mereka tak bisa lagi membatasi interaksi dan diversity adalah bagian yang tak terpisahkan lagi dalam kehidupan sehari-hari. Sedemikian pentingnya hal ini sehingga buku-buku manajemen sekolah-sekolah bisnis top di Amerika memasukkan topik Managing Diversity sebagai salah satu bagian penting di dalamnya.

Diversity memperkaya sumber daya suatu organisasi. Corporate culture menjadi lebih hidup dan dinamis. Diversity bukan hanya terbatas pada perbedaan ras dan bahasa, melainkan pada banyak hal praktis lain seperti gaya bekerja, kepribadian, dll. Namun, jika tidak tepat dalam mengelolanya diversity justru bisa menjadi penghancur. Mudah dipahami bahwa semakin banyak perbedaan dalam suatu kelompok akan semakin sulit juga mengaturnya. Energi yang dibutuhkan untuk merekatkan suatu komunitas yang sangat beragam akan lebih besar bila dibandingkan dengan komunitas yang homogen. Dengan kata lain, integrity suatu organisasi akan cenderung menurun seiring meningkatnya diversity di dalamnya. Meski demikian tidak ada batasan pasti seberapa tinggi tingkat diversity itu bisa mempengaruhi integrity.

Dengan memahami hal ini, kita sadar bahwa Indonesia adalah negara dengan tingkat diversity yang sangat tinggi. Keanekaragaman populasi yang kita miliki mungkin salah satu yang tertinggi, kalau bukan yang memang tertinggi, di dunia. Berbagai macam karakteristik mulai dari warna kulit, jenis rambut, bahasa daerah, sampai selera makanan ada di Indonesia. Keragaman ini telah memperkaya budaya bangsa akan tetapi ini juga berarti kita membutuhkan energi yang sangat besar untuk bisa menyatukan komunitas yang sangat heterogen ini.

Bila semangat nasionalisme di dalam negeri tidak terasa begitu tinggi, bukan hal yang aneh. Jangan disamakan dengan Jepang yang di negeri sendiri mereka sangat bangga dengan ke-Jepang-an mereka. Juga individu Korea yang begitu bangga menyebut dirinya generasi bangsa DaeHanMinGuk. Di Jepang dan Korea semua orang serupa dan sebentuk, makan makanan yang sama, berbicara dalam bahasa yang sama, dan wilayah mereka relatif kecil. Tak heran bila semangat dan kebanggaan akan bangsa mereka begitu tinggi, bahkan bisa dibilang cukup ekstrim.

Bagi orang Indonesia yang berada di luar negeri seperti Amerika Serikat, semangat kebangsaan ini baru terasa karena hanya dengan orang Indonesia lah mereka bisa berbicara dalam bahasa Indonesia. Perasaan senasib pun muncul meski bahasa daerah mereka berbeda. Melihat tempe goreng mata mereka bersinar terang. Mendengarkan musik Indonesia terasa berbeda dari biasanya. Perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus menjadi momen kembali ke kampung halaman. Tapi masih ada juga beberapa orang yang tidak merasa spesial saat bertemu dengan orang Indonesia lain di luar negeri. Tetap tidak berselera saat melihat masakan Indonesia dan merasa emoh mendengarkan musik Indonesia bahkan tidak suka berbicara dalam bahasa Indonesia pada sesama orang Indonesia. Believe me, they exist! Dan catat, itu yang di luar negeri. Yang di dalam negeri juga banyak, lebih banyak. Banyak yang tidak bangga dengan identitas Indonesia mereka. Banyak yang tidak akur. Banyak yang begini begitu.

Akan panjang daftarnya kalau kita sebutkan semua betapa sulitnya menyatukan bangsa ini. Keragaman Indonesia sejauh ini belum kita manfaatkan untuk hal yang lebih baik. Sebaliknya, keragaman kita justru telah menjadi salah satu kontributor melemahnya national integrity yang telah, sedang, dan semoga tidak akan, terjadi.

Apa kita kurang berpendidikan? Mungkin. Dan mungkin kita perlu mengambil kelas Manajemen dan belajar sungguh-sungguh tentang Managing Diversity.

2 Responses to “Indonesia Perlu Belajar Dari Corporate America”


  1. 1 ingki February 24, 2008 at 7:07 am

    mungkin perlu ada penanaman kesadaran soal musuh bersama bung. korupsi adalah musuh bersama. kebodohan juga musuh bersama. kemiskinan pun musuh bersama. semua musuh yang kalau ditarik garis lurus berpangkal pada soal buruknya pemahaman pendidikan. sayangnya musuh-musuh itu belum dianggap jadi ancaman nyata. senyata festival band atau kompetisi sepak bola.

  2. 2 ian February 24, 2008 at 5:07 pm

    @ ingki:

    Mungkin benar itu Mas. Kesadaran kita akan ancaman-ancaman itu (bahasa kerennya: bahaya laten) belum membuat kita bergerak untuk melakukan sesuatu. Tidak seperti festival band atu kompetisi sepak bola, memang, yang bisa membuat banyak dari kita berteriak histeris dan lonjak-lonjak.

    Kita ini stau bangsa, jangan ribut terus donk!
    Kita semua memang berbeda, tapi bukan berarti kita harus membeda-bedakan diri!

    We’re all different, that’s why we’re the same.


Leave a Reply